Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Adab dalam Menuntut Ilmu

Review materi dari Ustadz Muslih As Shohwah dalam kajian rutin Mahasiswa Pecinta Al Qur'an "Akhlak Dulu Baru Ilmu" Adab dalam Menuntut Ilmu: 1. Sabar Yaitu sabar dalam menaati Allah. Tidak bermaksiat, dan menerima takdir Allah. Dalam bukunya, Salim A. Fillah menuliskan: "Jika ada perintah-Nya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada Tangan-Nya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan pada-Nya jua kita akan pulang." 2. Mengiklaskan setiap waktu untuk belajar Menuntut ilmu kadangkala menjadi hal yang berat disaat kemalasan melanda diri kita. Namun seperti nasihat emas dari Imam Syafi'i "Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu ...

Tanah Gersang

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan, setiap orang adalah guru kita. Ya. Setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan kitalah murid yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana. Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya. Tetapi barangkali justru kita adalah tanah paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang, lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang, lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana. Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memus...

Laa Tahzan Innallaha Ma'anaa

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mereview kembali materi yang telah saya dapatkan mengenai bagaimana manusia menghadapi permasalahan hidup. Semoga bermanfaat :) Ada 3 lapisan dari diri manusia dalam menghadapi permasalahan hidup. Pada lapisan pertama , seorang manusia akan dilapisi oleh ruh (ruhaniyah) kondisi rohani dalam diri. Saat keadaan ruh seseorang ini baik. Dalam menghadapi suatu masalah, ia akan lebih mendahulukan introspeksi diri. Ia akan merefleksikan dirinya dari sesuatu yang menyebabkan masalah itu datang. Entah dari amalan-amalan hariannya yang terlupakan, entah dari kesalahan dirinya terhadap orang lain, atau dosa-dosa dimasa lalunya yang menyebabkan masalah itu akhirnya datang pada dirinya. Kemudian setelah dia mengintropeksi diri, ia akan memperbaiki dan berusaha menyelesaikan masalah dengan terus meningkatkan intensitas kedekatan kepada Allah. Kemudian dilapisan kedua , seorang manusia dalam menghadapi masalah akan terlapisi oleh akal. Akal dalam ha...

Kembali Berdo'a Pasrah

Semakin hari rasa rasanya semakin diri ini lupa bagaimana caranya berdo'a pasrah. Mungkin karena aku yang terlalu ngoyo agar sesuatu yang aku inginkan bisa aku dapatkan sesuai dengan keinginanku. Salah satunya aku ingin ada sesuatu yang akan terus bersamaku. Meski hanya satu. Tapi akan selalu ada untukku. Mengisi ruang keluh dan penatku pada ujian yang akan terus berdatangan. Ketika saat itu aku pasrah dengan meminta pada-Nya, DIA mendatangkannya untukku. Namun kemudian ketika aku mulai ngoyo agar sesuatu itu terus ada padaku. DIA justru memberikan jarak atasku padanya. Dari hal ini aku semakin berpikir bagaimana agar aku bisa menguasai diriku untuk tidak terlalu menginginkan sesuatu namun sesuatu itu tetap bisa aku dapatkan. Aku juga perlu belajar dengan baik bagaimana cara merayu-Nya dengan benar untuk mendapatkan apa yang aku harapkan namun tetap dengan keputusan-Nya yang paling baik. Ohh Allah.. Aku kembali bermunajat dengan memohon kebaikan pada-Mu Aku mem...

Tak Berjudul

Kau tau siapa aku bagi keluargaku. Bagaimana mereka akan bercerita padaku tentang apa saja. Dari segenap permasalahan yang ada, hampir tak ada yang terlewat untuk diungkapkan padaku. Sedangkan untuk menceritakan masalah ku pada mereka aku tak pernah berdaya. Karena bagiku masalah ku tak seberapa. Dan masalah mereka adalah masalah ku. Lalu, aku akan menyimpan semuanya sendiri. Hingga semuanya memuncak. Dan aku akan menangis sejadi-jadinya. Itu sebelum aku mengenalmu. Lalu kemudian aku merasa memiliki penyemangat. Orang pertama yang akan kucari saat aku menemui masalah. Seseorang yang membebaskan ku untuk mengungkapkan apa saja. Bercerita apa saja. Seseorang yang bisa menghibur dan menenangkan ku bahkan disaat aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Namun apa jadinya ketika aku menyadari bahwa yang telah ku anggap begitu penting bagiku ternyata hanyalah khayalan belaka. Seseorang yang ternyata tidak benar-benar ada dihidupku. Seseorang yang ingin untuk terus aku genggam erat nam...

Kehidupan Baru di Bulan ke-3

Matahari menyapa tiap pagi lewat celah-celah pepohonan yang terlihat dari balik jendela. Udara pagi berhembus menerobos masuk dengan kesegarannya. Burung-burung berkicauan riang diluar sana. Dan seseorang yang tengah menuliskan bait ini adalah orang yang menikmati keindahannya tiap pagi dari dalam kamarnya. *** Inilah 3 bulanku hidup dikehidupan baruku, ditempat yang baru. Suasana yang baru ini benar-benar berbeda. Kau bisa melihatnya sendiri. Merasakannya lewat bait demi bait kata yang kutulis sebagai bait-bait pembuka. Segala puji bagi Allah.. Allah berikan saya tempat berteduh yang nyaman. Tempat tinggal keduaku. Tempat sementara yang bisa saya singgahi untuk beberapa waktu. Meski saya tidak tau berapa lama saya dapat menempati kamar ini. Tapi saya merasa ini sebagai salah satu hadiah yang Allah beri untuk saya. Tidak mungkin seseorang hidup di tempat baru tanpa bertemu dengan orang yang baru. Dan.. di tempat tinggalku ini saya menemui orang-orang baru. Disinil...

Hikmah Pada Hari Ke-tiga

Sudah tiga hari ini sebagian besar waktu yang saya miliki hanya dihabiskan dikamar ini. Kali ini saya memandangi langit-langit kamar dengan seksama. Sambil menerka-nerka apa sebenarnya ibroh yang dapat saya ambil dari hal ini. Kenapa saya harus menikmati waktu yang sangat membosankan dengan kepala yang begitu pening dan suhu badan yang naik turun selama tiga hari berturut-turut. Sedangkan banyak hal yang seharusnya akan saya kerjakan dan ada beberapa agenda yang sudah direncanakan dengan sedemikian rupa terpaksa harus dibatalkan. Saya masih terus mencoba berfikir dengan tetap memandangi langit-langit kamar yang didominasi warna biru laut itu. "Tidak lama lagi langit-langit kamarku akan berubah warna" Sesaat kemudian mata saya mencoba untuk menyapu seluruh bagian kamar dengan seksama. Dan mata ini tertuju pada satu bagian dinding yang penuh dengan kata-kata motivasi dan penyemangat. "Ah tulisan-tulisan itu juga sebentar lagi tak akan kulihat di kamar tidurku. Mun...

Dia Ajaib

Dia ada untuk saya sebelum saya bertanya adakah yang bisa membuat saya riang dibumi ketika saya tengah gundah. Dia tau rasa sakit sebelum saya merasakannya. Bahkan dia tau keadaan saya sebelum saya menyadari bagaimana keadaan saya saat itu. Dia ajaib! Ajaib bisa seketika membuatku nyaman kala sedang gelisah. Bisa merubah cemasku menjadi tenang. Bisa merubah sedihku menjadi riang. Dan Membuat senyapku menjadi riuh. Manusia ajaib yang hadir di bumi ini. Bukan. Bukan untuk saya.. Tapi untuk semua orang. Semua orang yang membutuhkan kehadirannya Namun, saya tetap bahagia. Terimakasih *Terinspirasi dari novel "dilan, dia adalah dilanku"

Kala Ujian Kembali Menyapa

Kau ingat bagaimana sebelumnya pernah kuceritakan bahwa saya pernah melangitkan impian namun takdir berkata lain? Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk menetap dan tak jauh dari orang-orang yang berarti dihidup saya agar bisa lebih berbakti dan dapat terus mendampingi setiap langkah orang-orang yang saya cintai. Belajar untuk terus ikhlas menerima ketentuan-Nya hingga pada akhirnya menikmati dan mensyukuri atas apa yang telah Tuhan berikan. Waktu demi waktu bergulir dengan berbagai macam rintangan yang masih dapat terselesaikan dengan mudah. Hingga waktu itu tiba. Saat dimana saya merasa ujian ini adalah yang terberat dan tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak. Saat dimana saya menyadari ada banyak hal yang akan berubah setelah ini. Dimana banyak yang harus dikorbankan. Dimana saya akan menjadi sumber kekuatan untuk orang-orang yang sangat saya cintai, bahkan disaat diri ini merasa begitu rapuh. Detik-detik itu terus berjalan. Entah itu berjalan dengan ce...