Langsung ke konten utama

Kala Ujian Kembali Menyapa


Kau ingat bagaimana sebelumnya pernah kuceritakan bahwa saya pernah melangitkan impian namun takdir berkata lain?

Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk menetap dan tak jauh dari orang-orang yang berarti dihidup saya agar bisa lebih berbakti dan dapat terus mendampingi setiap langkah orang-orang yang saya cintai.

Belajar untuk terus ikhlas menerima ketentuan-Nya hingga pada akhirnya menikmati dan mensyukuri atas apa yang telah Tuhan berikan. Waktu demi waktu bergulir dengan berbagai macam rintangan yang masih dapat terselesaikan dengan mudah.

Hingga waktu itu tiba. Saat dimana saya merasa ujian ini adalah yang terberat dan tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak. Saat dimana saya menyadari ada banyak hal yang akan berubah setelah ini. Dimana banyak yang harus dikorbankan. Dimana saya akan menjadi sumber kekuatan untuk orang-orang yang sangat saya cintai, bahkan disaat diri ini merasa begitu rapuh.

Detik-detik itu terus berjalan. Entah itu berjalan dengan cepat ataukah berjalan dengan lambat karena terlalu sulit menerkanya kala itu. Berusaha terus menguatkan hati dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tak pernah ada kata menyesal keluar dari mulut ini. Menikmati kebersamaan dengan memprioritaskan yang saat itu harus diprioritaskan. Terus mendampingi setiap keberubahan yang terlihat begitu jelas. Detik demi detik yang menjadi sangat-sangat berarti didalam hidup ini.

Kau tau bagaimana rasanya seseorang yang mengikhlaskan mimpinya terkubur agar bisa selalu mendampingi orang yang dicintainya, dan kemudian disaat dia telah benar-benar ikhlas Tuhan justru mengujinya kembali dengan meminjam orang yang dicintainya tersebut?

Tuhan hanya ‘meminjam’ bukan ‘mengambil’. Iya hanya itu.
Tidaklah lama. Mungkin hanya dalam hitungan bulan.
Hitungan bulan yang akan terasa sekian tahun. Terdengar berlebihan?
Akan terdengar sangat berlebihan ketika kamu hanya melihat. Bukan merasakan.
Saya juga tidak akan memintamu untuk merasakan apa yang saat itu saya rasakan. Saya justru tidak mau ada yang merasakan apa yang saya rasakan karena saya tau itu berat. Sekalipun kamu akan sanggup.

Ada seuntai kata yang saat itu menyadarkan saya akan ada perjuangan yang lebih besar setelah ini. Seuntai kata yang terucap dari seorang wanita yang sangat saya cintai.
“Nduk mungkin ini adalah ujianmu. Mungkin memang hanya sampai disini kami bisa menyekolahkanmu. Setelah ini, kamu harus bisa berusaha sendiri untuk mencapai cita-citamu. Sekolahmu harus selesai. Kami hanya bisa mendoakan supaya kamu sukses. Barangkali ujian ini yang akan menjadi batu loncatanmu dalam meraih kesuksesan.”
Kata-kata itu terasa sangat menyayat dan membekas dihati. Bahkan untuk memberikan jawaban atau menanggapi ucapan tersebut pun saya tidak mampu.

Seserius itukah ujian ini?
Hingga ucapan semacam itu harus terlontar?

***

Kala itu saya tidak tau apa maksud Allah memberikan ujian yang terasa seberat ini. Saya hanya bisa terus meyakinkan diri bahwa apapun ujian yang  Dia berikan tidak akan melampaui batas kemampuanku. Dan dari begitu banyaknya manusia yang ada, Allah pilih saya untuk mendapatkan ujian yang semacam ini. Itu berarti Allah masih sayang dengan saya. Allah ingin saya lebih kuat dan lebih tangguh untuk orang-orang yang saya cintai.

Kemudian sejak saat itu, saat dimana dua orang yang selama ini menjadi alasan saya untuk tinggal justru harus pergi. Disitulah saya belajar untuk melawan rasa cemas dan takut akan kesendirian. Belajar untuk lebih mandiri. Belajar bagaimana memanajemen waktu dengan lebih baik. Belajar mengatur keuangan dengan sedemikian rupa. Dan segala hal yang harus dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Serta hal-hal yang biasanya saya kejakan bersama mereka, kini harus saya lakukan sendiri.

***

Sekarang saya mengerti bagaimana memaknai sebuah rindu. Ketika kerinduan yang begitu menyiksa hanya dapat diobati dengan do’a yang tak pernah putus. Memohon pada-Nya agar segera mengembalikan mereka dan membuat kehidupan saya berjalan normal seperti sediakala. Saya jadi mengerti bagaimana orang-orang diluar sana harus menahan rindu kala jauh dari orang yang dicintainya. Sebut saja mereka yang tengah merantau untuk bekerja atau meraih cita-cita agar suatu saat nanti bisa membahagiakan keluarganya. Bagaimana kebahagiaan dan antusias yang mereka rasakan kala dapat kembali kekampung halaman.

Sekarang saya juga mengerti bagaimana berharganya sebuah kebersamaan. Betapa berharganya waktu  yang bisa dihabiskan untuk berbakti dan mendampingi orang yang kita cintai disaat suka dan duka. Dan bagaimana waktu bisa dengan cepat bergerak dan merubah segalanya atas ijin-Nya.
Kita tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi suatu hari nanti. Kita tidak tahu besok akan seperti apa dan bagaimana skenario-Nya akan berjalan. Namun kita tahu bahwa yang akan terjadi dikehidupan kita sudah menjadi takdir yang telah direncanakan-Nya.
Dan didetik ini juga kita hanya perlu menyadari bahwa

Kita tidak akan pernah tahu seperti apa bahagianya berada dipuncak,
Bila kita belum pernah merasakan berada dibawah.
Kita tidak akan tahu seperti apa rasanya manis,
Bila kita belum pernah merasakan pahit.
Kita tidak akan pernah tahu seberapa indahnya moment-moment
kebangkitan dalam diri kita,
Bila kita tidak pernah merasakan jatuh.
Dan kita tidak akan pernah menyadari seberapa besar
rasa sayang Allah pada kita,
bila kita tidak pernah diberikan cobaan serta ujian.
(Hujan Bahagia-Stefani Bella)

***

Semoga ada hal yang bisa dipetik dari tulisan ini meskipun tulisan ini masih jauh dari kata baik.

Terimakasih.

Batang,
January 8th 2018



3.10 AM.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIPAKSA NGEBLOG

(photo by hmps ekosy: dalam pelatihan blog) Dari judulnya sudah ketahuan ya apa yang melatarbelakangi saya untuk kembali kedunia per-blogger-an *apaan sih bahasanya :v Karena lama tak jumpa dan lama tak menyapa saya akan mengawalinya dengan basmalah terlebih dahulu kemudian salam dan diakhiri dengan hamdalah. Nahloh apaan ini??? Hehe.. anggap saja sebagai sambutan :D بـسم الله الرحمن الرحيم Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah atas segala karuniaNya sehingga saya masih diberi kehidupan dan kesempatan untuk dapat berbagi entah ilmu maupun pengalaman melalui tulisan-tulisan saya disini yang ala kadarnya, yang masih jauh dari kata baik apalagi sempurna.  Semoga apa-apa yang saya bagikan hanyalah berupa kebaikan dan kebaikan sehingga membawa manfaat untuk saya pribadi dan untuk siapa saja yang membacanya. Kemudian ketika ada kesalahan mohon untuk diingatkan. Shalawat serta salam tak lupa tercur...

Profil

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Nama saya Rizta Evindionita. Dilahirkan oleh seorang wanita cantik yang sangat saya cintai dan saya hormati. Saya lahir pada 27 April 1998 di Batang, Jawa Tengah. Dan hingga sekarang saya masih setia tinggal dikota ini dengan orang tua tercinta. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Saya punya seorang kakak perempuan bernama Risna Yuyun Mardika yang telah berkeluarga (kakak ipar saya Moh.Saefudin) dan sebentar lagi akan dikaruniai buah hati. Bagi yang ingin tau riwayat pendidikan saya. Saya pernah bersekolah di SD N Proyonanggan 7 Batang, SMP Negeri 1 Batang, SMA Negeri 1 Batang, dan Ekonomi Syariah IAIN Pekalongan (angkatan 2016) Di masa SMA saya pernah aktif di Menspit Smantang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Rohis. Saya lebih banyak mendapatkan ilmu, pengalaman, dan teman disana dan saya bersyukur pernah berada dilingkungan itu. Sedangkan di kampus, saya ikut banyak kegiatan yang sangat m...

Hobby

My Hobby Pada postingan kali ini saya akan membahas mengenai hobi saya. Saya suka travelling, ya meskipun belum sampai ke seberang pulau apalagi ke luar negeri. Saya sangat menyukai aktivitas bepergian karena disitulah saya bisa menemukan banyak hal yang belum pernah saya temui. Dan dari kegiatan travelling itu pula kita dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang terhampar dimuka bumi secara nyata. Semoga Allah perkenankan diri ini melihat dan merasakan lebih banyak tanda-tanda kebesaran-Nya melalui travelling. Kemudian saya juga suka menulis, minimal menulis status fb, menulis caption di instagram, dan menulis pengalaman pribadi saya. Punya keinginan untuk menulis buku, semoga suatu saat nanti dapat terwujud. Karena saya suka menulis, tentulah saya juga akan suka membaca. Terutama membaca kejadian disekitar saya. Dimanapun saya berada. Kejadian-kejadian itu seakan memberi pelajaran yang membuat saya lebih bijak dan lebih dewasa dalam bersikap. ...