Kau ingat bagaimana sebelumnya pernah kuceritakan
bahwa saya pernah melangitkan impian namun takdir berkata lain?
Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk menetap dan tak jauh
dari orang-orang yang berarti dihidup saya agar bisa lebih berbakti dan dapat
terus mendampingi setiap langkah orang-orang yang saya cintai.
Belajar untuk terus ikhlas menerima ketentuan-Nya hingga pada
akhirnya menikmati dan mensyukuri atas apa yang telah Tuhan berikan. Waktu demi
waktu bergulir dengan berbagai macam rintangan yang masih dapat terselesaikan
dengan mudah.
Hingga waktu itu tiba. Saat dimana saya merasa ujian ini adalah
yang terberat dan tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak. Saat dimana saya
menyadari ada banyak hal yang akan berubah setelah ini. Dimana banyak yang
harus dikorbankan. Dimana saya akan menjadi sumber kekuatan untuk orang-orang
yang sangat saya cintai, bahkan disaat diri ini merasa begitu rapuh.
Detik-detik itu terus berjalan. Entah itu berjalan dengan cepat
ataukah berjalan dengan lambat karena terlalu sulit menerkanya kala itu.
Berusaha terus menguatkan hati dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tak
pernah ada kata menyesal keluar dari mulut ini. Menikmati kebersamaan dengan
memprioritaskan yang saat itu harus diprioritaskan. Terus mendampingi setiap
keberubahan yang terlihat begitu jelas. Detik demi detik yang menjadi
sangat-sangat berarti didalam hidup ini.
Kau tau bagaimana rasanya seseorang yang
mengikhlaskan mimpinya terkubur agar bisa selalu mendampingi orang yang
dicintainya, dan kemudian disaat dia telah benar-benar ikhlas Tuhan justru
mengujinya kembali dengan meminjam orang yang dicintainya tersebut?
Tuhan hanya ‘meminjam’ bukan ‘mengambil’.
Iya hanya itu.
Tidaklah lama. Mungkin hanya dalam
hitungan bulan.
Hitungan bulan yang akan terasa
sekian tahun. Terdengar berlebihan?
Akan terdengar sangat berlebihan
ketika kamu hanya melihat. Bukan merasakan.
Saya juga tidak akan memintamu untuk merasakan apa yang saat itu
saya rasakan. Saya justru tidak mau ada yang merasakan apa yang saya rasakan
karena saya tau itu berat. Sekalipun kamu akan sanggup.
Ada seuntai kata yang saat itu menyadarkan saya akan ada perjuangan
yang lebih besar setelah ini. Seuntai kata yang terucap dari seorang wanita
yang sangat saya cintai.
“Nduk mungkin ini adalah ujianmu. Mungkin memang hanya sampai
disini kami bisa menyekolahkanmu. Setelah ini, kamu harus bisa berusaha sendiri
untuk mencapai cita-citamu. Sekolahmu harus selesai. Kami hanya bisa mendoakan
supaya kamu sukses. Barangkali ujian ini yang akan menjadi batu loncatanmu dalam
meraih kesuksesan.”
Kata-kata itu terasa sangat menyayat
dan membekas dihati. Bahkan untuk memberikan jawaban atau menanggapi ucapan
tersebut pun saya tidak mampu.
Seserius itukah ujian ini?
Hingga ucapan semacam itu
harus terlontar?
***
Kala itu saya tidak tau apa maksud Allah memberikan ujian yang
terasa seberat ini. Saya hanya bisa terus meyakinkan diri bahwa apapun ujian
yang Dia berikan tidak akan melampaui
batas kemampuanku. Dan dari begitu banyaknya manusia yang ada, Allah pilih
saya untuk mendapatkan ujian yang semacam ini. Itu berarti Allah masih sayang
dengan saya. Allah ingin saya lebih kuat dan lebih tangguh untuk orang-orang
yang saya cintai.
Kemudian sejak saat itu, saat dimana dua orang yang selama ini
menjadi alasan saya untuk tinggal justru harus pergi. Disitulah saya belajar
untuk melawan rasa cemas dan takut akan kesendirian. Belajar untuk lebih mandiri.
Belajar bagaimana memanajemen waktu dengan lebih baik. Belajar mengatur
keuangan dengan sedemikian rupa. Dan segala hal yang harus dilakukan sendiri
tanpa bantuan orang lain. Serta hal-hal yang biasanya saya kejakan bersama
mereka, kini harus saya lakukan sendiri.
***
Sekarang saya mengerti bagaimana memaknai sebuah rindu. Ketika
kerinduan yang begitu menyiksa hanya dapat diobati dengan do’a yang tak pernah
putus. Memohon pada-Nya agar segera mengembalikan mereka dan membuat kehidupan
saya berjalan normal seperti sediakala. Saya jadi mengerti bagaimana
orang-orang diluar sana harus menahan rindu kala jauh dari orang yang
dicintainya. Sebut saja mereka yang tengah merantau untuk bekerja atau
meraih cita-cita agar suatu saat nanti bisa membahagiakan keluarganya.
Bagaimana kebahagiaan dan antusias yang mereka rasakan kala dapat kembali
kekampung halaman.
Sekarang saya juga mengerti bagaimana berharganya sebuah
kebersamaan. Betapa berharganya waktu
yang bisa dihabiskan untuk berbakti dan mendampingi orang yang kita
cintai disaat suka dan duka. Dan bagaimana waktu bisa dengan cepat bergerak dan
merubah segalanya atas ijin-Nya.
Kita tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi suatu hari
nanti. Kita tidak tahu besok akan seperti apa dan bagaimana skenario-Nya akan
berjalan. Namun kita tahu bahwa yang akan terjadi dikehidupan kita sudah
menjadi takdir yang telah direncanakan-Nya.
Dan didetik ini juga kita hanya perlu menyadari bahwa
Kita
tidak akan pernah tahu seperti apa bahagianya berada dipuncak,
Bila
kita belum pernah merasakan berada dibawah.
Kita
tidak akan tahu seperti apa rasanya manis,
Bila
kita belum pernah merasakan pahit.
Kita
tidak akan pernah tahu seberapa indahnya moment-moment
kebangkitan
dalam diri kita,
Bila
kita tidak pernah merasakan jatuh.
Dan kita
tidak akan pernah menyadari seberapa besar
rasa
sayang Allah pada kita,
bila
kita tidak pernah diberikan cobaan serta ujian.
(Hujan
Bahagia-Stefani Bella)
***
Semoga ada hal yang bisa dipetik dari tulisan ini meskipun tulisan
ini masih jauh dari kata baik.
Terimakasih.
Batang,
January 8th 2018
3.10 AM.

Komentar
Posting Komentar