Aku akan menjadi saksi. Sekaligus teman perjalananmu esok nanti. Meski aku tidak tau kapan waktunya. Aku telah menyaksikan perjalananmu untuk mencapai apa yang kamu impikan. Aku menyaksikan bagaimana kamu yang selalu ditertawakan oleh orang-orang karena argumentasimu yang tidak mudah untuk orang lain pahami. Bagaimana susunan kalimat yang kau lontarkan hingga membuat orang lain menganggapmu sebelah mata. Hingga aku melihatmu dalam keadaan terpuruk dan menghilang dari jejak pandangan mata. Aku telah menyaksikan perjalananmu untuk mencapai apa yang kamu impikan. Aku menyaksikan bagaimana kamu kembali bangkit dari keterpurukan. Kamu yang kemudian bermetamorfosa menjadi seseorang yang membanggakan. Kamu yang gemilang dalam segala Kebanggaan. Kamu yang akhirnya mendapat banyak pengakuan dari orang lain hingga dipercaya untuk dapat berbicara dan menyampaikan ilmu yang kamu miliki pada banyak orang. Dan akhirnya kamu mendapatkan panggungmu. Aku pun masih menyaksikan bagaiman...
Pada sepetak waktu dan ruang yang sama aku berbicara pada senja yang berubah menjingga. Dengan binar bahagia ia bercerita dengan riangnya. "Alhamdulillah kemarin disuruh ngisi acara. Eh selesai acara dikasih amplop. Terus aku pakai buat beli buku sama kuota. Sisanya buat beli bensin." Katanya dengan suka cita. Ah sesederhana itu bahagianya. Dengan proses yang kutau tak sederhana. "Kamu tau? Allah itu nggak mungkin nggak ngasih rezeki ke hambanya. Allah pasti kasih sesuai dengan kebutuhan hambanya. Masing-masing orang udah ada porsinya sendiri. Cuman, kalau mau mendapatkan apa yang kita inginkan perjuangannya harus lebih ekstra. Karena kalau kebutuhan pasti akan dicukupi. Sedangkan apa yang diinginkan perlu usaha yang lebih untuk mendapatkannya. Sesuai dengan besarnya keinginan kita itu." Jelasnya mengenai kebutuhan dan keinginan. Ah semua itu hanya akan menjadi sekedar teori jika tidak pernah dialami sendiri. Tapi kenyataannya memang demikian. Mudahnya jik...