Langsung ke konten utama

Postingan

Membersamai Temaram Hingga Gemilang Sang Peneduh Hati

Aku akan menjadi saksi. Sekaligus teman perjalananmu esok nanti. Meski aku tidak tau kapan waktunya. Aku telah menyaksikan perjalananmu untuk mencapai apa yang kamu impikan. Aku menyaksikan bagaimana kamu yang selalu ditertawakan oleh orang-orang karena argumentasimu yang tidak mudah untuk orang lain pahami. Bagaimana susunan kalimat yang kau lontarkan hingga membuat orang lain menganggapmu sebelah mata. Hingga aku melihatmu dalam keadaan terpuruk dan menghilang dari jejak pandangan mata. Aku telah menyaksikan perjalananmu untuk mencapai apa yang kamu impikan. Aku menyaksikan bagaimana kamu kembali bangkit dari keterpurukan. Kamu yang kemudian bermetamorfosa menjadi seseorang yang membanggakan. Kamu yang gemilang dalam segala Kebanggaan. Kamu yang akhirnya mendapat  banyak pengakuan dari orang lain hingga dipercaya untuk dapat berbicara dan menyampaikan ilmu yang kamu miliki pada banyak orang. Dan akhirnya kamu mendapatkan panggungmu. Aku pun masih menyaksikan bagaiman...
Postingan terbaru

Senja yang Menjingga

Pada sepetak waktu dan ruang yang sama aku berbicara pada senja yang berubah menjingga. Dengan binar bahagia ia bercerita dengan riangnya. "Alhamdulillah kemarin disuruh ngisi acara. Eh selesai acara dikasih amplop. Terus aku pakai buat beli buku sama kuota. Sisanya buat beli bensin." Katanya dengan suka cita. Ah sesederhana itu bahagianya. Dengan proses yang kutau tak sederhana. "Kamu tau? Allah itu nggak mungkin nggak ngasih rezeki ke hambanya. Allah pasti kasih sesuai dengan kebutuhan hambanya. Masing-masing orang udah ada porsinya sendiri. Cuman, kalau mau mendapatkan apa yang kita inginkan perjuangannya harus lebih ekstra. Karena kalau kebutuhan pasti akan dicukupi. Sedangkan apa yang diinginkan perlu usaha yang lebih untuk mendapatkannya. Sesuai dengan besarnya keinginan kita itu." Jelasnya mengenai kebutuhan dan keinginan. Ah semua itu hanya akan menjadi sekedar teori jika tidak pernah dialami sendiri. Tapi kenyataannya memang demikian. Mudahnya jik...

Untukmu yang Mengaku Siap

Untuk kamu yang mengaku siap menjadi imamku, Tahukah kamu lebih dari 2 dekade sebelumnya Ayahku berjuang memenuhi kebutuhan nafkahku, ibuku memenuhi kebutuhan cinta kasihku ... siapkah kamu menerima pengalihan tanggung jawab ini? Tak perlu dirimu yg kaya raya ...  cukup yg tahu TANGGUNG JAWAB, dan tak pernah MENYERAH menjemput rezeki halal demiku dan anak2 kita. Iya, saat ini banyak lelaki lemah yg bahkan istri diminta menghidupi dirinya sendiri ... insyaAllah jika engkau mengaku siap menjadi imamku ... maka itu "satu paket" dengan kesiapanmu tuntas amanah perkara nafkah Tak perlu yg lebay romantisnya ... cukup yg sedikit paham kebutuhan jiwaku akan kasih sayangmu. Yang tak pernah melupakan menyisipkan namaku dalam doa khusukmu InsyaAllah akupun berupaya berazzam untuk belajar menjadi pribadi bersahaja yg sanggup ridho atas usaha maksimal yg telah engkau persembahkan dan menunjukkan baktiku padamu ___________ Untuk kamu yang mengaku siap menjadi imamku, D...

Pasrah

Aku dibiarkan berada didalam pusaran badai saat aku membutuhkan peneduh. Peneduhku menghilang. Katanya aku terlalu mempermasalahkan hal kecil dan mengabaikan hal yang lebih penting. Bagai luka yg baru disiram air campuran garam yg perihnya luar biasa menembus segala luka. Yang telah ku anggap sedemikian penting untuk menjadi tempat berteduhku ternyata tak mampu memahamiku. Membuatku merasa menjadi manusia buruk. Dengan hati yang kian porak poranda. Yang telah kuanggap lebih paham denganku lebih dari diriku sendiri ternyata membuat luka dalamku semakin menganga. Dengan susah payah aku belajar untuk bisa berdamai dengan diriku sendiri Dengan luka dalam yang mati-matian berusaha untuk aku sembuhkan. Dan dengan semudah itu mengatakan aku terlalu mempermasalahkan hal kecil dan mengabaikan hal yang lebih penting. Tidakkah kau terfikir sebelumnya bagaimana efek yang ditimbulkan oleh perkataan itu :'( Aku pasrah Pasrah jika setelah ini semuanya berakhir Aku pasrah jika...

Adab dalam Menuntut Ilmu

Review materi dari Ustadz Muslih As Shohwah dalam kajian rutin Mahasiswa Pecinta Al Qur'an "Akhlak Dulu Baru Ilmu" Adab dalam Menuntut Ilmu: 1. Sabar Yaitu sabar dalam menaati Allah. Tidak bermaksiat, dan menerima takdir Allah. Dalam bukunya, Salim A. Fillah menuliskan: "Jika ada perintah-Nya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada Tangan-Nya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan pada-Nya jua kita akan pulang." 2. Mengiklaskan setiap waktu untuk belajar Menuntut ilmu kadangkala menjadi hal yang berat disaat kemalasan melanda diri kita. Namun seperti nasihat emas dari Imam Syafi'i "Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu ...

Tanah Gersang

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan, setiap orang adalah guru kita. Ya. Setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan kitalah murid yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana. Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya. Tetapi barangkali justru kita adalah tanah paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang, lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang, lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana. Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memus...

Laa Tahzan Innallaha Ma'anaa

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mereview kembali materi yang telah saya dapatkan mengenai bagaimana manusia menghadapi permasalahan hidup. Semoga bermanfaat :) Ada 3 lapisan dari diri manusia dalam menghadapi permasalahan hidup. Pada lapisan pertama , seorang manusia akan dilapisi oleh ruh (ruhaniyah) kondisi rohani dalam diri. Saat keadaan ruh seseorang ini baik. Dalam menghadapi suatu masalah, ia akan lebih mendahulukan introspeksi diri. Ia akan merefleksikan dirinya dari sesuatu yang menyebabkan masalah itu datang. Entah dari amalan-amalan hariannya yang terlupakan, entah dari kesalahan dirinya terhadap orang lain, atau dosa-dosa dimasa lalunya yang menyebabkan masalah itu akhirnya datang pada dirinya. Kemudian setelah dia mengintropeksi diri, ia akan memperbaiki dan berusaha menyelesaikan masalah dengan terus meningkatkan intensitas kedekatan kepada Allah. Kemudian dilapisan kedua , seorang manusia dalam menghadapi masalah akan terlapisi oleh akal. Akal dalam ha...