Review materi dari Ustadz Muslih As Shohwah dalam kajian rutin Mahasiswa Pecinta Al Qur'an
"Akhlak Dulu Baru Ilmu"
Adab dalam Menuntut Ilmu:
1. Sabar
Yaitu sabar dalam menaati Allah. Tidak bermaksiat, dan menerima takdir Allah.
Dalam bukunya, Salim A. Fillah menuliskan:
"Jika ada perintah-Nya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada Tangan-Nya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan pada-Nya jua kita akan pulang."
2. Mengiklaskan setiap waktu untuk belajar
Menuntut ilmu kadangkala menjadi hal yang berat disaat kemalasan melanda diri kita. Namun seperti nasihat emas dari Imam Syafi'i "Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan."
3. Beramal berdasarkan ilmu pengetahuan
"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu". (HR. Turmudzi)
4. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah
Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah akan membuat kita selalu semangat untuk mencari ilmu.
Allah Swt telah menjanjikan derajat di dalam Surat Mujadilah/58 ayat 11,
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ۚ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
5. Menjaga waktu
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua hal yang banyak orang tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 6778.)
Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kita sering kali akan tertipu dan lalai jika dalam keadaan sehat dan memiliki banyak waktu. Tertipu disini maksudnya adalah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya serta terlalu menyibukkan diri dengan perkara dunia. Jika demikian, maka kerugian dan penyesalanlah yang akan ia dapatkan di akhirat kelak.
6. Memberikan peringatan
Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan:
“Allah memberitakan bahwa peringatan tersebut akan bermanfaat bagi orang yang beriman karena pada diri mereka ada keimanan, rasa takut, taubat dan mengikuti ridha Allah, yang semua itu mengharuskan peringatan tersebut bermanfaat baginya, sebagaimana firman Allah ta’ala :
ﻓَﺬَﻛِّﺮْ ﺇِﻥْ ﻧَﻔَﻌَﺖِ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَﻯﺳَﻴَﺬَّﻛَّﺮُ ﻣَﻦْ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﻭَﻳَﺘَﺠَﻨَّﺒُﻬَﺎ ﺍﻷﺷْﻘَﻰ
“Oleh sebab itu berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. Orang-orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran, orang-orang yang kafir dan celaka akan menjauhinya.” (Al A’la: 9-11)
7. Kuat dalam pemahaman
Orang yang telah mempelajari ilmu akan memahami ilmu dari lingkup yang lebih luas.
Abdullah bin al-Mubarak. Beliau pernah mengatakan bahawa:
“Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.
2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.
3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”
Kenapa Islam sangat menganjurkan orang untuk mencari ilmu?
Tujuannya adalah wadah kita menjadi besar. Perbedaan apapun yang ada disekitar kita bisa kita tampung dan bisa kita sikapi dengan baik. Kita tidak akan mudah terpengaruh, tertipu, terprovokasi.
Namun kita paham bahwa setiap pikiran seseorang ada sisi benarnya masing-masing dalam tiap gagasannya. Dengan luasnya ilmu dan pengetahuan yang kita miliki kita bisa menyikapi segala sesuatu dengan baik dan bijak.
8. Banyak membaca buku
Membaca banyak buku akan lebih memperkaya pemahaman kita mengenai berbagai hal. Namun demikian kita perlu selektif dalam memilih buku yang akan dibaca. Akan lebih baik jika kita memastikan kualitas buku tersebut terlebih dahulu. Yaitu bukan buku-buku dengan isi yang menyimpang dari ilmu yang semestinya.
9. Memilih teman dekat
Memilih teman bukanlah perkara remeh, Islam memerintahkan kita untuk memilih siapa yang menjadi teman kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل
“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)
Yang dimaksudkan dalam memilih teman disini adalah teman dekat (akrab), namun demikian bukan berarti kita jadi membatasi diri dari orang lain. Justru kita dianjurkan untuk berteman dengan siapa saja dalam konteks relasi. Karena dengan begitu selain kita memiliki banyak relasi, kita bisa belajar bersosialisasi, memahami orang lain, juga bisa mengajak orang lain dalam rangka kebaikan.
10. Beradab kepada guru
Di antara adab-adab yang telah disepakari adalah adab murid kepada syaikh atau gurunya. Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan kholifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408)
Oleh karena itu guru harus kita takzimi dan hormati. Bahkan saking urgennya guru, Khalifah keempat Ali r.a menyatakan:
“Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia mau bisa menjualku dan bisa juga memerdekakanku.”
Dengan artian, bukan berarti Sayyidina Ali r.a. ingin menjadi budaknya guru, namun saking terhormatnya seorang guru di mata Islam, maka seakan-akan kita menjadi budaknya. Walaupun tentunya tidak bisa dengan ini seorang guru semena-mena memperlakukan murid-muridnya.
Seorang guru hakiki itu sudah mempunyai seribu pengalaman, semantara murid masih sebiji sawi pengalaman. seorang murid itu baru permulaan dalam menuntut ilmu, sehingga pengetahuannya masih terbatas. Sementara syeikh, guru, sudah nihayah, mempunyai pengetahui yang kompleks.
Demikian review materi mengenai 10 adab dalam menuntut ilmu yang saya pahami. Jika ada penjelasan yang kurang tepat mohon untuk diluruskan. Terimakasih.
"Akhlak Dulu Baru Ilmu"
Adab dalam Menuntut Ilmu:
1. Sabar
Yaitu sabar dalam menaati Allah. Tidak bermaksiat, dan menerima takdir Allah.
Dalam bukunya, Salim A. Fillah menuliskan:
"Jika ada perintah-Nya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada Tangan-Nya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan pada-Nya jua kita akan pulang."
2. Mengiklaskan setiap waktu untuk belajar
Menuntut ilmu kadangkala menjadi hal yang berat disaat kemalasan melanda diri kita. Namun seperti nasihat emas dari Imam Syafi'i "Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan."
3. Beramal berdasarkan ilmu pengetahuan
"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu". (HR. Turmudzi)
4. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah
Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah akan membuat kita selalu semangat untuk mencari ilmu.
Allah Swt telah menjanjikan derajat di dalam Surat Mujadilah/58 ayat 11,
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ۚ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
5. Menjaga waktu
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua hal yang banyak orang tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 6778.)
Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kita sering kali akan tertipu dan lalai jika dalam keadaan sehat dan memiliki banyak waktu. Tertipu disini maksudnya adalah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya serta terlalu menyibukkan diri dengan perkara dunia. Jika demikian, maka kerugian dan penyesalanlah yang akan ia dapatkan di akhirat kelak.
6. Memberikan peringatan
Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan:
“Allah memberitakan bahwa peringatan tersebut akan bermanfaat bagi orang yang beriman karena pada diri mereka ada keimanan, rasa takut, taubat dan mengikuti ridha Allah, yang semua itu mengharuskan peringatan tersebut bermanfaat baginya, sebagaimana firman Allah ta’ala :
ﻓَﺬَﻛِّﺮْ ﺇِﻥْ ﻧَﻔَﻌَﺖِ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَﻯﺳَﻴَﺬَّﻛَّﺮُ ﻣَﻦْ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﻭَﻳَﺘَﺠَﻨَّﺒُﻬَﺎ ﺍﻷﺷْﻘَﻰ
“Oleh sebab itu berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. Orang-orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran, orang-orang yang kafir dan celaka akan menjauhinya.” (Al A’la: 9-11)
7. Kuat dalam pemahaman
Orang yang telah mempelajari ilmu akan memahami ilmu dari lingkup yang lebih luas.
Abdullah bin al-Mubarak. Beliau pernah mengatakan bahawa:
“Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.
2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.
3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”
Kenapa Islam sangat menganjurkan orang untuk mencari ilmu?
Tujuannya adalah wadah kita menjadi besar. Perbedaan apapun yang ada disekitar kita bisa kita tampung dan bisa kita sikapi dengan baik. Kita tidak akan mudah terpengaruh, tertipu, terprovokasi.
Namun kita paham bahwa setiap pikiran seseorang ada sisi benarnya masing-masing dalam tiap gagasannya. Dengan luasnya ilmu dan pengetahuan yang kita miliki kita bisa menyikapi segala sesuatu dengan baik dan bijak.
8. Banyak membaca buku
Membaca banyak buku akan lebih memperkaya pemahaman kita mengenai berbagai hal. Namun demikian kita perlu selektif dalam memilih buku yang akan dibaca. Akan lebih baik jika kita memastikan kualitas buku tersebut terlebih dahulu. Yaitu bukan buku-buku dengan isi yang menyimpang dari ilmu yang semestinya.
9. Memilih teman dekat
Memilih teman bukanlah perkara remeh, Islam memerintahkan kita untuk memilih siapa yang menjadi teman kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل
“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)
Yang dimaksudkan dalam memilih teman disini adalah teman dekat (akrab), namun demikian bukan berarti kita jadi membatasi diri dari orang lain. Justru kita dianjurkan untuk berteman dengan siapa saja dalam konteks relasi. Karena dengan begitu selain kita memiliki banyak relasi, kita bisa belajar bersosialisasi, memahami orang lain, juga bisa mengajak orang lain dalam rangka kebaikan.
10. Beradab kepada guru
Di antara adab-adab yang telah disepakari adalah adab murid kepada syaikh atau gurunya. Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan kholifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408)
Oleh karena itu guru harus kita takzimi dan hormati. Bahkan saking urgennya guru, Khalifah keempat Ali r.a menyatakan:
“Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia mau bisa menjualku dan bisa juga memerdekakanku.”
Dengan artian, bukan berarti Sayyidina Ali r.a. ingin menjadi budaknya guru, namun saking terhormatnya seorang guru di mata Islam, maka seakan-akan kita menjadi budaknya. Walaupun tentunya tidak bisa dengan ini seorang guru semena-mena memperlakukan murid-muridnya.
Seorang guru hakiki itu sudah mempunyai seribu pengalaman, semantara murid masih sebiji sawi pengalaman. seorang murid itu baru permulaan dalam menuntut ilmu, sehingga pengetahuannya masih terbatas. Sementara syeikh, guru, sudah nihayah, mempunyai pengetahui yang kompleks.
Demikian review materi mengenai 10 adab dalam menuntut ilmu yang saya pahami. Jika ada penjelasan yang kurang tepat mohon untuk diluruskan. Terimakasih.

Komentar
Posting Komentar