Langsung ke konten utama

Memaknai Rasa Syukur

Bagaimana memaknai rasa syukur?
Bagaimana caranya untuk tidak menginginkan apa yang orang lain miliki?
Bagaimana kita merasa cukup atas apa yang telah kita terima tanpa melihat apa yang orang lain punya?

Menurutku jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah dengan bersyukur. Bersyukur itu mudah (diucapkan) tapi dalam proses peng-aplikasian-nya sungguh tidak semudah itu bukan?

Sebenarnya kita hanya tidak perlu terlalu sering melihat apa yang orang lain punya, apa yang bisa orang lain dapatkan,  dan kebahagiaan yang terlihat dari diri orang lain. Intinya stop membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Fokus saja pada diri sendiri, fokus dengan target dan pencapaian yang ingin kita raih  dengan tidak mencontek milik orang lain.

Kita seringkali terlena oleh pencapaian orang lain hingga kita menjadi sibuk bagaimana bisa menjadi seperti dia atau bisa lebih dari dia. Sedangkan setiap orang tentu diberikan kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan bisa jadi bentuk pencapaian orang tersebut berbeda dengan bentuk pencapaian yang bisa kita dapatkan.

Seringkali kita terlena dengan apa yang orang lain miliki, kita melihat apa yang dia kenakan bagus dan akhirnya kita pun berusaha untuk memiliki yang sama. Padahal sebenarnya itu hanyalah sebatas ‘keinginan’ bukan ‘kebutuhan’. Dan disaat itulah timbul berperilaku konsumtif.

Kemudian kita merasa bahwa apa yang kita dapatkan benar-benar hasil dari pencapaian kita sendiri tanpa melibatkan orang lain, bahkan parahnya kita terlalu jumawa menganggap yang berhasil kita dapatkan dari hasil jerih payah diri sendiri bukan serta merta dari Allah. Disitulah bagaimana kita melempar jauh rasa syukur dalam diri.

Apalagi?
Apakah kita terbiasa melihat rumput tetangga lebih hijau dari milik kita?
Kita melihat betapa hidup orang lain serba ada dan terlihat paripurna?
Mudah punya ini dan itu. mudah mendapatkan ini dan itu. Serta terlihat selalu bahagia dan penuh keberlimpahan?

Klise sekali..
Kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya ada pada diri masing-masing individu. Seringkali kita salah dalam menilai. Apa yang kita lihat tidak selalu seperti apa yang sebenarnya orang lain rasakan.

Barangkali apa yang dia dapatkan saat ini hasil dari pontang-pantingnya selama beberapa tahun yang lalu sebelum kita mengenalinya. Atau bisa jadi meskipun dia bisa mendapatkan semuanya dengan mudah namun hatinya tak pernah tentram karena selalu merasa kurang dan was-was.

Bisa juga kamu melihatnya bahagia dan selalu ceria, namun sebenarnya dia sedang menutupi lukanya agar tak ada satu pun orang yang mampu melihatnya. Atau itu hasil dari masalalunya yang ingin dia pendam dalam-dalam.

Kita tidak pernah tahu rasanya menjadi orang lain dan hanya terbiasa menilai tanpa pernah mencoba memahami, karena sesungguhnya dalam setiap langkah seseorang ada tekanan dan beban yang harus dipikul dipundaknya. Dan kita tidak pernah tahu akan itu semua.

Pada akhir pembahasan ini kita hanya perlu menjadi diri sendiri, merasa cukup dengan apa yang kita miliki dengan bersyukur, menggali potensi tanpa iri dengan pencapaian orang lain, dan Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Teruslah belajar untuk menanamkan rasa syukur dalam diri meskipun itu tidak mudah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)


Batang, 
December 31th 2017



01.28 AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIPAKSA NGEBLOG

(photo by hmps ekosy: dalam pelatihan blog) Dari judulnya sudah ketahuan ya apa yang melatarbelakangi saya untuk kembali kedunia per-blogger-an *apaan sih bahasanya :v Karena lama tak jumpa dan lama tak menyapa saya akan mengawalinya dengan basmalah terlebih dahulu kemudian salam dan diakhiri dengan hamdalah. Nahloh apaan ini??? Hehe.. anggap saja sebagai sambutan :D بـسم الله الرحمن الرحيم Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah atas segala karuniaNya sehingga saya masih diberi kehidupan dan kesempatan untuk dapat berbagi entah ilmu maupun pengalaman melalui tulisan-tulisan saya disini yang ala kadarnya, yang masih jauh dari kata baik apalagi sempurna.  Semoga apa-apa yang saya bagikan hanyalah berupa kebaikan dan kebaikan sehingga membawa manfaat untuk saya pribadi dan untuk siapa saja yang membacanya. Kemudian ketika ada kesalahan mohon untuk diingatkan. Shalawat serta salam tak lupa tercur...

Profil

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Nama saya Rizta Evindionita. Dilahirkan oleh seorang wanita cantik yang sangat saya cintai dan saya hormati. Saya lahir pada 27 April 1998 di Batang, Jawa Tengah. Dan hingga sekarang saya masih setia tinggal dikota ini dengan orang tua tercinta. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Saya punya seorang kakak perempuan bernama Risna Yuyun Mardika yang telah berkeluarga (kakak ipar saya Moh.Saefudin) dan sebentar lagi akan dikaruniai buah hati. Bagi yang ingin tau riwayat pendidikan saya. Saya pernah bersekolah di SD N Proyonanggan 7 Batang, SMP Negeri 1 Batang, SMA Negeri 1 Batang, dan Ekonomi Syariah IAIN Pekalongan (angkatan 2016) Di masa SMA saya pernah aktif di Menspit Smantang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Rohis. Saya lebih banyak mendapatkan ilmu, pengalaman, dan teman disana dan saya bersyukur pernah berada dilingkungan itu. Sedangkan di kampus, saya ikut banyak kegiatan yang sangat m...

Video

Cara Membuat Cokelat Praline